Jarang Membeli Buku karena Internet Mudah dan Murah 

Saya sudah lama tidak lagi membeli buku dan tabloid semenjak memiliki smartphone dan memiliki akses internet tanpa batas.

Buku-buku yang sudah saya beli tersebut sebagian besar masih tersimpan rapi di rak buku, dan sebagian lagi menghilang bersamaan dengan peminjamnya. Dan sialnya, buku buku yang menghilang itu adalah buku buku yang bagus.

Buku terakhir yang saya beli adalah Naked Traveler 7, setelah itu tidak ada lagi koleksi lagi yang ingin aku beli lagi, kecuali Teaching Like in Finland. Itupun karena di iming imingi oleh guru dari Al Azhar.
Dahulu saya sering langganan Tabloid Motor +, PC Plus, Komputex, Bola, Otomotif, Tabloid  Pulsa dan Nova, koran harian seperti Koran Tempo, Solo Pos, Sindo atau yang bulanan seperti Intisari, National Geographic, Reader Digest Indonesia, Info Komputer, Info Linux (sekarang kelihatannya sudah tidak terbit lagi) dan kadang sekali dua membeli majalah Trubus.

Dari semua yang saya sebutkan diatas, hanya tinggal Intisari yang masih aku beli secara rutin tiap bulan karena informasi yang ada didalamnya bersifat abadi yang artinya meskipun sudah dibaca bertahun-tahun setelah majalah itu diterbitkan. (mirip konsep Reader Digest) artikelnya masih relevan hingga nanti.

Untuk saat ini sepertinya sayang banget untuk membeli buku buku yang dipajang di toko. Sebabnya adalah, informasi yang terdapat dalam buku tersebut sangat mudah dicari secara mandiri di Internet dengan cakupan yang lebih luas dan lebih kekinian.Informasi yang diberikan kadang terlalu luas dan hanya beberapa bagian kecil saja yang dapat saya tarik manfaatnya

Lebih suka membaca http://www.iwanbanaran.com, http://www.aripitspot.com, kobayogas.com untuk memperoleh informasi terbaru seputar dunia otomotif. Sering nongkrong di pcworld, untuk komputer. Berita ringan suka detik dan tempointeraktif, blog traveling marischaprudence, nakedtraveler, ransel kecil, dan whateverbackpacker.

Kadang-kadang mengikuti Hipwee atau Kaskus.

Sekarang lebih suka menonton Youtube daripada repot membaca artikel tentang tutorial, review, tips and trick,yang kadang artikel itu hanya seperti salinan dari sana sini kemudian digabung menjadi satu.

Belajar hal-hal baru, dan bahkan belajar materi materi soal ujian sekarang lebih suka menggunakan Youtube. Dan jika ada video yang menarik saya langsung mendownload melalui SS, dengan cara menyisipkan 2 huruf ss setelah  titik. (http://www.ssyoutube.com/……).

Channel yang sering saya ikuti antara lain, yufidtv, bangripiu,putureza, taolao,malesbanget, bajindulgaes, bayuskak, khalidbasamalah, dan masih banyak lagi channel yang membahasa traveling, ti, lucu, survival dll.

Dari semua informasi yang aku dapatkan diatas, saya hanya mengeluarkan uang sebesar 150.000 per bulan untuk langganan internet unlimited/tanpa batasan apapun. Bukankah jauh lebih murah dibandingkan dengan membeli buku dan langganan tabloid/koran.

Dengan alasan diatas lah saya menjadi sangat jarang untuk membeli buku lagi.

Yang paling berdampak besar tanpa adanya majalah, koran serta buku adalah Emak. Emak sekarang sering mengeluh dengan tidak adanya koran yang  dapat digunakan untuk membungkus makanan, baju baju kotor ketika bepergian, membungkus pemberian untuk orang lain atau digunakan sebagai alas sesuatu atau digunakan sebagai pemantik api di dapur. 

Asal kalian tahu, kami masih menggunakan tungku tradisional yang terbuat dari batu peninggalan kakek buyut saya  untuk memasak apapun didapur, meskipun sudah memiliki kompor gas dan kompor minyak.

Emak dan bapak beralasan bahwa rasa makanan dan minuman yang dimasak menggunakan kayu bakar terasa lebih nikmat daripada menggunakan kompor.

End.

34 thoughts on “Jarang Membeli Buku karena Internet Mudah dan Murah 

  1. Aku ebook kindle buat traveling aja. Saat ini masih suka beli buku di charity shop ataupun dari amazon. Trus reader digest se rak buku dapet warisan dari ibunya temanku ( wanita inggris yg meninggal 2 bln yg lalu di usianya yg ke 96th ) semasa hidupnya kita suka tukaran buku. Skrg buku2 dia di kasih ke aku semua 😍 aku cuma pilih yg aku suka sisanya aku kasih ke charity shop.
    Ngomong2 masak dg tunggu is the best 😍

    Like

      1. Buku berat sih apa lagi yg model digest reader tebal tebal sangat kiri. Dr sini ke indo mahal di ongkir andai aku di indo mah aku psti kasih2 neh buku setelah aku baca. Disini ya aku kasih ke charity shop 😇

        Like

  2. Saya jg sdh sangat jarang beli buku he he

    Btw, luar biasa di masa kini masih memasak pakai tungku. Kalau di rumahku kecuali ada acaran besar baru masah pakai kayu api, itupun hanya masak nasi

    Like

  3. Saya masih kolot, kurang nyaman dengan ebook kecuali terpaksa. Teman-teman saya ada malah yang nyari file pdf buku tertentu (mostly buku arab klasik) dan mencetaknya. Tapi itu pun mayan lebih murah dibanding versi terbitan massal. Btw saya pekerja buku, masa-masa sekarang memang dilema. Orang-orang menyebutnya disruption dalam industri perbukuan. Peminat buku turun drastis tapi peminat ebook masih sangat kecil.

    Like

  4. masyarakat lebih suka membaca artikel pendek, daripada artikel yang menganalisis panjang lebar tentang sesuatu

    Saya suka fitur pencariannya dalam ebook, sehingga saya dapat dengan cepat menemukan apa yang saya inginkan..daripada buku konvensional.

    Like

  5. Internet seolah menggantikan segalanya ya. Tinggal satu dua klik, apapun langsung dapat, aplgi klau berlangganan internet atau wifi. Baca buku tinggal lwat aplikasi, bgtu pun mau blnja…dst…Tp syang utk masak nasi gak bs lewat internet, ttp pke kompor, haha….aplgi pke tungku tradisional, wah ortu sy bnget tuh…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s