Pengalaman Pertama Menginap di Hotel Kapsul

Satu minggu yang lalu kami mengunjungi adik yang sedang bekerja di Semarang untuk pertama kalinya. Karena kamar kos-nya sempit, sumpek dan panas maka kami berinisiatif mencari penginapan yang tidak terlalu jauh dengan Simpang Lima. Dengan hanya satu syarat: Murah.

Setelah browsing di aplikasi pemesanan hotel, ketemulah Omah Pelem Guest House. Yang kami suka adalah penginapan ini menawarkan sewa per bed dibawah 50.000 😂. Hemat banget untuk saya yang hanya bergaji UMR.

Tapi sayangnya, harga itu hanya berlaku ketika kalian memesan via aplikasi, jika offline maka harga sewa akan melonjak menjadi 75.000, –

Oke skip, setelah jam 13. 00 saya diantar Mbak Mbak yang cantik nan manis untuk menuju ke kamar. Kamar itu berada di lantai dua, pojokan menghadap ke arah utara, berdampingan dengan dorm khusus wanita. Di dalam kamar itu terdapat 9 buah bed bertirai dengan colokan listrik dan lampu mandiri. Lumayan untuk privasi. Saya bebas memilih bed mana saja. 

Karena saya tidak ingin terganggu oleh lalu lalang penghuni lain yang melakukan aktifitas, maka saya lebih memilih yang pojok atas jauh dari pintu. Untuk mencapainya saya harus menaiki tangga dari kayu yang berdiri tegak lurus. Rasanya cukup ngeri karena agak licin, apalagi jika masih memakai kaos kaki dan sehabis cuci kaki, makin tambah deh.

Masuk ke dalam “kapsulnya” saya bisa duduk tanpa kepentok (entah kalau bule)  dan melakukan aktifitas normal. Namun saya kesulitan untuk ganti pakaian, karena harus selonjoran dan doing something. Solusinya adalah saya berganti pakaian di kamar mandi sahaja.

Bagi kalian yang tidak mempunyai fobia tempat sempit dan tertutup, saya kira akan merasa nyaman saja di sini. Apalagi kasurnya lumayan empuk dan bersih. -minus selimut.

Yang menjadi masalah adalah ketika bersama dengan tamu lain yang suka mendengkur kalau tidur. Antar bed bisa saingan siapa yang paling keras. Dan hal ini benar-benar terjadi pada dua malam itu. Saya hampir tidak bisa tidur karena terganggu dengan keadaan tanpa daya seperti ini. Yang saya lakukan kadang hanya menendang bagian samping atau bawah bed untuk membuat berisik agar mereka terbangun, tapi ini hanya berlangsung beberapa menit saja. Setelah itu ya balik lagi lomba-nya. 

Namun mau bagaimana lagi, murah sih. Jadi segala komplain gak berlaku. Kesimpulannya adalah saya merasa baik-baik saja tidur di tempat ini, merasa nyaman dan lebih privasi daripada Hostel pada umumnya. Apalagi harganya yang sangat menggoda. 

23 thoughts on “Pengalaman Pertama Menginap di Hotel Kapsul

  1. Saya sudah pernah mencoba menginap di Kapsul hotel ini, Kak. Serius pengalaman yang menantang hahaha, apalagi waktu itu jalan sendiri.
    Tapi, benar, harganya yang murah memang sangat menggoda. Ada plus dan minusnya juga sih hotel seperti ini. Salah satu minusnya menurut saya adalah kamar mandinya, karena kamar mandi bersama, kadang ada pengunjung yang mandinya ngak karu-karuan, lalu petugas pembersih yang lambat reaktif, yaaa…begitulah hahaha

    Like

  2. Aku pernah coba menginap sekali di hotel kapsul di Jakarta, waktu itu tempatnya masih relatif baru jadi super bersih dan lumayan nyaman. Tapi, setiap mau ke kamar mandi harus pakai kerudung dulu karena kamar mandinya sharing, itu yang bikin malas haha. Sesekali memang boleh banget dicoba kalau dompet lagi tidak mendukung😂

    Like

  3. Hahaha usil jugaa ya mas bikin suara biar tamu yg ngorok bangun wkwkw.

    Aku gapernah nginep di hotel kapsul gitu sih, tapi aku kerja di hostel jadi emang ada kamar dormitorynya dan kurang lebih bisa membayangkan rasanya.

    Rata-rata komplenan tamu indonesia pasti rata2 sama, pada gamau dikamar mandi sharing karna mls ribet dll, terus mereka gabiasa booking per kasur, biasanya per kamar. Jadi kadang agak kaget pas tau kamarnya campur, apalagi ditempatku isinya 80% bule semua. Dan soal kebersihan kamar mandi jg sering jadi problem sih, apalagi bule bule maunya kamar mandi kering, sementara org indo kalau ke toilet duduk pun airnya bececeran kemana-manah :”). terus kadang tamu indo jg mls karna kamarnya campur tamu lain jadi berasa ga ada privasi, apalagi gasetiap bed bentuknya kapsul, kadang ada yang cuma pakai tirai.

    Like

    1. beneran gak bisa tidur kalau denger orang mendengkur tuh,

      Hostel mana Nad? aku sering nginep di EduHostel hlo kalau ke jogja. Selain dapat sarapan, tempatnya juga asyik.

      Kita orang Indonesia memang belum terbiasa nginep bareng gitu sih,. Dan urusan toilet, he he…. ya kami heran kalau gak basah

      Like

      1. Aku di Ostic Management mas, ada 2 hostel namanya Ostic House & Otu Hostel, di daerah Suryodiningratan & Prawirotaman yang banyak bulenya. Hooooo edu hostel mayan banyak kamarnyaa itu.

        Haha iya belom terbiasa. Makanya aku kadang suka heran kalau ada orang indo booking dorm. Takutnya mereka ngira booking satu kamar padahal satu kasur. Dulu perna kejadian booking 2 kasur di kamar isi 4 orang, eh yang dateng 8 orang.

        Iya tapikan kalau toilet duduk kalau basah geli gaksih :”(

        Like

        1. wah belum pernah kesana sih, kalau ke jogja lagi
          Iya mayan banyak, sering berbarengan dengan anak SMK yang lagi study tour di Jogja.
          Yah, masyarakat umum memang kadang masih rancu dengan istilah perhotelan, booking sama check in aja kadang masih sama

          geli dan menjijikkan, haha

          Like

  4. Di dorm begini, saya lebih senang tidur di dipan bawah. Nggak enak banget sama orang soalnya kalau balik malam-malam terus tempat tidurnya goyang pas saya lagi naik. Hahaha. 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s