Mencari Makanan di Alun-alun Kidul Solo

Suatu sore abis magrib, kami keliling mencari makanan di sekitar Alun-alun Kidul Solo. Karena begitu banyaknya penjual makanan berjenis-jenis, kami malah muter-muter mengelilingi lapangan lebih dari tiga kali kebingungan ingin menentukan pilihan warung yang cocok. Akhirnya saya memutuskan untuk menyempitkan kriteria warung itu harus penjualnya muda, cantik dan lebih penting lagi bersih.

Setelah setengah putaran, kami menemukan jenis warung tersebut. Warung itu bernama Wedangan Bu Nina, penjualnya cakep, bersih dan muda, mencolok diantara pedagang yang lain. Letaknya di sebelah timur menghadap ke arah timur. Jualannya semacam angkringan -jogja, kalau di Solo namanya adalah wedangan atau hik. Menunya ya standar, aneka minuman panas dingin dan tentu saja nasi kucing yang khas itu. Eh ada perbedaannya hlo antara Solo dan Jogja cara membungkus nasinya, kalau Solo biasanya meninggi sedangkan Jogja mendatar.

IMG_4279 (Large)

Alun-alun Kidul Solo termasuk dalam lingkungan keraton Surakarta Hadiningrat, maka dari itu tempat ini terdaftar sebagai cagar budaya. Di pinggir alun-alun banyak tersebar penjual makanan berat dan ringan, semuanya ada. Sedangkan di bagian tengahnya ada aneka hiburan untuk anak dan dewasa. Seperti sepeda hias yang kelap-kelip itu.

IMG_4205 (Large)

Yang menjadi maskot tempat ini adalah keberadaan kebo bule bernama kyai Slamet dan keturunannya. Kerbau ini disakralkan, dan akan diarak melewati jalan-jalan ketika malam satu suro sebagai pembuka barisan kirab keraton. Pada hari biasa, kalian bisa menjumpainya sedang berkubang di air menyejukkan diri. Pengunjung juga bisa memberi makan dengan cara membeli sayuran kangkung yang dijual oleh beberapa pedagang di sekitar kandang.

Alun-alun Kidul menjadi tempat berkumpulnya segala lapis masyarakat, mulai dari miskin sampai kaya, pengangguran sampai mahasiswa, lokal dan pelancong, tidak akan ada perbedaan.

31 thoughts on “Mencari Makanan di Alun-alun Kidul Solo

  1. Hadeh kriteria nyari makan bisa begitu ya. Wahai mbak-mbak yang cakep… Pindah kerjaan aja jadi bakul sego πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Alhamdulillah sudah sering ke Alun-Alun solo, tapi gak pernah memperhatikan sedetail ini. Jadi aku baca ini sambil mengingat-ingat. Ooo sebelah sana ya… Gitu.

    Like

    1. bingung menentukan pilihan hlo mas kalau pedagang sebanyak itu, waktunya juga mepet, kalau milih yang sepi takut tehnya gak enak. Kekuatan angkringan kan wedang e yang seger.
      Untung saja wedangan e Bu Nina mantab, terbukti dia lebih banyak pelanggan dibandingkan dengan yang lain

      Like

  2. Istilah “hik” belakangan ini baru tahu. Kalau di Jawa Timur wedangan mirip sama warkop hehehe. Setuju soal pilih angkringan yg ramai sebagai indikasi teh/kopi yg enak.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s