Mengatasi Erosi Pasir

Di kampung kami, biasanya orang memiliki banyak pasir di pekarangan rumahnya sebagai persiapan hal tak terduga. Misalkan untuk urug-urug, nutupin tahi ayam, atau kalau kepepet bisa untuk menggambar. Pasir-pasir itu bisa terbengkalai bertahun-tahun lamanya kena hujan dan panas.

Untuk mengatasi erosi pasir karena terkena hujan yang masif atau ulah usil anak kecil yang sering main mobil-mobilan, maka kami menanaminya ubi jalar (Ipomoea batatas L.). Ubi jalar yang dalam bahasa Inggris disebut dengan sweet potato (πŸ˜‚ ya ampun kosa kata mereka dikit banget sih, masa iya dikatakan kentang manis) ini nanti akan menjalar dan mengikat pasir yang ada di situ melalui akar serabutnya, sehingga tak akan lari kemana-mana.

Ubi jalar  yang diaku-aku dari Amrik ini tidak membutuhkan pembudidayaaan sekelas bunga anggrek. Hanya tinggal memotong bagian jalarnya sejengkal, kemudian ditancapkan pada pasir, dibasahi beberapa hari agak tumbuh akar dan setelah itu biarkan saja mereka tumbuh merajalela.

Setelah beberapa bulan, pemiliknya bisa memanen ubi tanpa mematikan tanamannya, dan ubi akan tetap tumbuh sampai bosan sendiri.

28 thoughts on “Mengatasi Erosi Pasir

  1. Infonya bagus. Baru tau kalo pasir bisa ditanami gitu. Aku kalo punya tumpukan pasir gitu suka emosi karena jadi tempat kucing buang kotoran. Jadi kalo ada pasir biasanya kumasukkan ke goni. Dua kali pernah punya tumpukan pasir dan kumasukkan ke goni dan tak berapa lama ada tetangga yang minta. Langsung dikasih saja daripada buat repot.

    Like

    1. iya mbak sondang, dan ternyata meskipun dari luar kering kerontang ternyata di dalamnya masih tersisa kelembabannya untuk bertahan hidup bagi si ubi.

      πŸ˜‚πŸ˜‚.. iya bener, kucing memang suka gitu, ayam juga sering,..wah padahal harga pasir mahal hlo, apalagi yang pasir hitam dari gunung berapi

      Liked by 1 person

        1. ada Mbak Sondang, biasanya dari bekas aliran lava gunung berapi. Kalau disini rata-rata mengambilnya dari Gunung Merapi Jogja, di sungainya yang sering dialiri lahar dingin. Material ini punya kelebihan lebih cepat mengikat semen dan keras banget dibandingkan pasir sungai biasa.

          Liked by 1 person

          1. Wah, tambah pengetahuan lagi nih.
            Thanks ya.
            Btw, kembali ke Ubi (eh, ubi jalar kan?),,, bisa nggak ditanami diranah yang agak keras ada sedikit batu2 gitu ya?atau harus digemburkan lagi. Sepertinya halaman kami masih ada lahan tapi itu tanah agak keras karena selama ini aku tanam pohon2( mangga, belimbing,sirsak dll). Dulu ada kesalahan, sewaktu menimbun tanah ternyata tanah berbatu dan tidak dibersihkan jadi tanah agak keras gitu.

            Like

            1. bisa tumbuh, tapi jangan mengharap umbi nya besar, karena seperti halnya tanaman kentang, ubi membutuhkan tanah yang gembur biar umbinya berkembang mbak, kalau tanahnya keras kan jadinya kejepitπŸ˜‚.

              Liked by 1 person

      1. Hadeuhhh. Tolong, ya, Kak Seta. Terakhir saya makan Ubi Cilembu pas lagi ngehits-ngehitsnya, kisaran tahun 2009-2010. Ngebayanginnya jadi kepengen lagi. 😍 Hahaha. πŸ˜‚

        Eh tapi serius, Kak. Kalau pasir bisa buat nanam tanaman ini mestinya berbahagialah tinggal di daerah berpasir. Selain mencegah erosi, sesekali kalau mau bisa makan olahan ubi jalar sepuasnya atau sekalian aja dijadikan potensi bisnis rumahan. 😁

        Like

        1. apaaaa?? sudah satu dekade lalu? beli sanaaa..πŸ˜‚πŸ˜‚, masih banyak yang jual di pinggir jalan kan??

          Sebenarnya sih iya, karena ubi mentah dihargai murah maka banyak orang yang ogah nanem, padahal kalau diolah lagi bisa punya nilai jual tinggi… hanya kurang informasi dan sosialiasi saja untuk mereka

          Like

          1. Parah bet yaaa. πŸ˜‚πŸ˜‚ Saya nggak tahu di daerah Kalbar yang lain, tapi nemuin ubi itu di pinggir jalan, terutama bagi yanf tinggal di tengah Kota Pontianak cem saya susahnya minta ampun, Kak.. Udah kayak barang antik. Tapii, agak lazim sih kalau di daerah Pontianak Utara karena di sana memang banyak orang Jawanya. Sayangnya, saya udah pindah dari sana enam tahun yang lalu dan kalau mau ke sana pun cukup ngeselin karena aksesnya selaluu macet. πŸ˜ͺ

            Sayang banget, ya, kalau gitu, Kak. πŸ˜”

            Like

              1. Hem, sayang nggak ada saudara di Jawa.

                Bisa banget. Memang mesti dicoba biar tahu apakah memang banyak peminatnya, terutama mayoritas di sini rata-rata Melayu yang lidahnya nggak gimana terbiasa sama yang manis.

                Sangaat. Bulan ini bahkan diperparah dengan arus balik mudik. πŸ˜…

                Like

              2. ada kok yang jual online.
                lebih suka dengan yang pedas kan ya?
                πŸ˜‚πŸ˜‚ kalau bulan ini sih gak hanya Pontianak, dimana-mana juga macet, malah mampet.

                Like

              3. Iyaa, yang pedas. Makanya mesti dicoba dulu. Kalau dijual di Siantan sih nggak heran kalau banyak peminatnya krn balik lagi: banyak orang Jawanya. πŸ˜…

                Ahaha, bahkan hingga hari ini aja tetap mampet 😦

                Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s