Keluarga Petani Jarang Bercerai 

Pagi ini, ketika saya sedang bersih-bersih kebon belakang rumah dengan emak. Saya sadar bahwa angka perceraian untuk keluarga petani lebih kecil dibandingkan profesi yang lain di kota saya.

Kuku Saya Yang Hitam Habis Garuk Tanah


Pasalnya, keluarga petani itu susah dan senang mereka rasakan bersama. Ketika mereka bekerja di ladang, mereka tau bagaimana beratnya mengolah tanah dan merawat tanaman hingga panen. Panas, hujan, kotor dan capek luar biasa.

Mereka memiliki kualitas kebersamaan yang lebih intens dibandingkan jenis pekerja yang lain. 

Jarang banget mereka mendebatkan berbagai masalah yang tidak ada hubungan dengan mereka. Mereka hanya fokus pada tanah, air dan tanaman yang sedang diusahakan. Mereka juga jarang berinteraksi dengan orang lain ketika tengah bekerja, paling hanya beberapa yang punya profesi sama. 

Mereka hampir bebas dengan pemenuhan kebutuhan tersier yang seolah-olah menjadi wajib, seperti pemutih wajah, baju kekinian, kendaraan halus, pergi ke kafe dan lain-lain. Sampai rumah mereka udah capek duluan untuk mikirin hal artifisial semacam itu.

Sehingga tak heran pasangan ini lebih setia dibandingkan dengan pasangan profesi yang lain.

Advertisements

33 thoughts on “Keluarga Petani Jarang Bercerai 

  1. Kalau Melihat kehidupan di desa kami, itu benar sekali.
    Walaupun selama ini aku berpikir itu dipengaruhi oleh adat istiadat juga ( orang Batak jarang bercerai ( walaupun akhir2 ini sudah ada juga). Ada juga yang pisah2 tapi kemudian bersatu lagi sampai hari tua).

    Like

        1. enggak juga sih, biar keliatan akur aja, Mbak..ha ha.

          Aku nulis tuh emang secara tiba-tiba, waktu aku dan emak sama-sama capek, karena itu sepertinya kami memiliki ikatan batin yang kuat. Lantas aku mikir, kalau punya ikatan seperti ini pantaslah bahwa keluarga petani jarang ada perceraian.

          Like

              1. sebenarnya aku setuju banget dengan biaya pernikahan yang mahal seperti ini, hal ini akan menyebabkan angka perceraian bisa nol persen dalam masyarakat.

                Masalahnya sekarang nikah itu murah banget, ha ha, hanya dengan uang 100.000 aja udah bisa meminang seorang wanita,

                Liked by 1 person

  2. Kalau di Kami mana bisa biaya segitu.
    Oke, bisalah adatnya belum dipestakan, hanya pemberkatan di gereja (tapi inipun tidak bisa dengan biaya 100ribu) atau nikah depan penghulu. Tapi adat itu sampai kapanpun harus dibayar dan bila dibuat menyusul yang ada bukan semakin irit tapi semakin berat.

    Like

    1. Terus kalau dibilang masalah ekonomi,,, jangan salah lho. Menurutku lebih mapan ekonomi petani (walaupun tidak semua) daripada ASN seperti aku. Makanya terkadang aku merasa lucu juga,,, karena sebenarnya aku hanya menang seragam plus bibir bergincu sementara kalo dibandingin dengan keuangan teman2 di kampung, aku tak ada apa2 ya

      Like

  3. Keluarga petani meskipun hidup masih penuh keterbatasan ekonomi, mereka bisa mempertahankan keluarganya ya kak, karena mereka selalu bersyukur dan menerima rejeki yang diberikan oleh yang diatas

    Like

  4. Di Kabupaten saya, angka perceraian tergolong tinggi. Termasuk tertinggi di Jawa TImur. Sayangnya saya tidak tahu penjelasan statistiknya mengenai profesi mereka.
    Mungkin kalau saja tulisan ini disertai angka statistik resmi dari KUA atau Pengadilan Agama setempat, argumennya jadi makin mantap 🙂

    Like

  5. saling percaya, pengertian, saling mendukung, dan saling saling yang lain ya kak agar rumah tangga yang dibina tetap kokoh dan bisa langgeng, makasih banyak sdh berbagi ya 🙂

    mohon ijin untuk memfollow blog anda agar bisa menjalin persahabatan dengan sobat 🙂

    Like

  6. Love this, bener banget ini, aku juga lahir dari keluarga petani, kehidupan kami sederhana tapi bahagia, lain kalau mereka yang kaya, sibuk kepikiran sama harta mereka yang ada dimana” sampai lupa waktu buat keluarga dan pasti karna jarang ketemu selalu ada rasa curiga, hal inilah yang mungkin jadi pemicunya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s