Budheku dan Yang Lain

Sumber: Sri Indah Prabansari

Assalamualaikum.

Budhe.

Ketika dia mau pulang, aku menawarkan diri untuk mengantarkannya sampai rumah menggunakan sepeda motor. Namun dia menolak dengan tegas. Big No. Seribu bujuk rayu yang meluncur dari Ibuku tak jua meluluhkannya. Dia bersikeras menunggu menantunya menjemput.

Aku anterin pulang ya, Dhe?”

” Gah usah. Lebih baik jalan kaki daripada kau antarkan “

” Keburu malam hlo, Dhe. Ini udah jam berapa coba? Nanti tambah dingin. Lagian nanti semakin malam takut kalau ada pocong dijalan “

“Halah cuman pocong, kalau dia muncul aku merem juga dianya ilang “

” Hla daripada nungguin, kan waktunya terbuang, Dhe “

” Gah, pokoke gah”

” Ya wis neknu, tak turu ae. Buk, budhe ora gelem tak terke muleh og “

Budhe selalu seperti itu. Tak pernah mau aku boncengkan kemana-mana. Gak jauh gak dekat sama saja.

Apa sebabnya? 

Dulu, malam Idul Fitri pertama kita kumpul dirumah. Pak Lek ku meminta aku mengantarnya ke rumah, karena motornya kempes ban. Tak bisa untuk berboncengan.

Kemudian aku setuju aja, karena agak jauh dan melewati banyak bolak. Jadinya kan horor.

Sejurus kemudian ketika budhe udah naik ke jok, aku langsung mengendarai motor dengan kecepatan semaksimal mungkin, lampu depan aku matikan, menikung rebah di ujung tanjakan, dan tak pernah menurunkan kecepatan ketika turunan.

Budhe sampai teriak-teriak ketakutan. Tangannya meremas pinggang sampai lecet. Begitu takutnya, bahkan sandal yang dia pakai terlepas pun tak bilang. Tau tau ketika turun hanya tinggal sebelah. Dia pun sempat teriak gak jelas sambil masuk rumah. 

Aku ora sudi kok goncengke meneh, Le. Ngepit mu koyo wong edan. Karo wong tuo kok sak sake”

” Hla Ben tekan ngomah cepet kok, Dhe. Ha ha.”

“Mbahmu kui”

Nah, sejak saat itu. Ketika ada orang menyuruh aku untuk nganterin bude. Maka pasti dianya tidak mau. Ya , Alhamdulillah. Biar orang lain saja.

Aku juga melakukan hal yang sama dengan orang yang baru pertama kali aku boncengin. Dengan cara mengendarai motor ugalan-ugalan di jalan raya. Jika dia tak berontak maka aku pelankan, namun jika ketakutan, malah aku makin gila-gilaan.

Dengan demikian, suatu saat nanti dia akan kapok aku boncengin.

Lain cerita.

Pernah ya, teman satu kantor ikut aku ke kantor dinas pendidikan kota. Sewaktu melalui jalan pedesaan, aku hanya memacu maksimal 60 km/jam. Dia berpikir ketika nanti sampai di jalan kota yang banyak kendaraan, pasti aku akan lebih lambat lagi. Namun ternyata sebaliknya, aku ngebut senekat-nekatnya. Mendahului kendaraan dari kiri, kanan, kiri kemudian kanan lagi. Secara zig zag. Selap-selip diantara bus dan truk. Aku puntir gass semaksimal mungkin, mengerem dan pindah gigi secara mendadak. Eh tak taunya, ketika sampai di lampu lalu lintas pertama, dia ingin turun. Ternyata dengkulnya udah bergetar. Tremor. Setelah itu dia duduk di pinggir jalab sambil memegang kakinya. Saya hanya tersenyum simpul. Dan ketika aku tawarkan pulangnga, dia menolak. Kapok katanya. 

Udah banyak korban selain dia.

Eh. Ada sih satu orang yang tak aku lakukan demikian. Yaitu ketika boncengin blogger yang dari Ngawi itu. Aku jalan pelan-pelan aja menikmati suasana kota dan jalan yang bergelombang.

Wassalam.

20 thoughts on “Budheku dan Yang Lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s