One Man, One Cow, One Planet 

Pernah menonton film dokumenter diatas? Kalau belum, aku kasih tau sinopsisnya.

Alkisah, di India. Sebagian petani menggunakan pupuk kimia (urea) yang berlebihan. Akibatnya adalah lahan pertanian dari tahun ke tahun menurun jumlah produksinya. Untuk mengatasi ini, petani menambahkan takaran pupuk secara membabi buta. Jika tahun ini satu sendok per lobang, maka tahun depan dua sendok dan seterusnya. Berharap kesuburan tanah membaik. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Lahan menjadi semakin rusak.

Tanah juga semakin keras seperti batu. Sulit untuk dibajak. Bahkan jika dibaui, persis seperti Urea.

Penggunaan alat berat untuk pembajakan secara masif juga menambah kerusakan komposisi tanah.

Tak hanya pupuk kimia, petani juga menggunakan insektisida yang berbahaya bagi lingkungan. Meskipun produsen menyatakan bahwa itu aman. Namun apakah masuk logika jika ulat saja mati kok katanya aman ?

Lebih dari itu semua, pemerintah juga mengimpor benih yang telah diotak atik DNA nya. Modifikasi yang dilakukan membuat produksi juga menurun kualitasnya. Hasil panen tidak bisa digunakan sebagai benih.

Makanan malah menjadi sumber penyakit.

Melihat kenyataan diatas. Jelas ini merugikan petani tradisional. Maka seorang petani New Zealand, Peter Proctor dan beberapa penggiat pertanian organik melakukan penelitian tentang pertanian di India selama beberapa tahun. Mereka menyadari bahwa India merupakan surganya biodinamik. India tidak membutuhkan campur tangan asing untuk mengurusi pertaniannya. Mereka sudah menemukan solusinya jauh melampaui negara-negara yang lain. Jauh sebelum pertanian modern.

***

Kisah semuanya berawal dari seekor sapi dan kotorannya. Dari kotoran sapi ini mereka membuat pupuk organik yang sangat bagus. Dengan metode tradisional, mereka mengemlek-emlek kotoran itu menjadi lembut, kemudian memasukkan kedalam sebuah tanduk kosong. Selanjutnya menguburnya. Dalam beberapa bulan, kotoran sapi itu sudah menjadi pupuk kompos yang menyuburkan.

Selain itu, air kencing sapi bisa dimanfaatkan menjadi semacam insektisida. Dengan cara menyemprotkan ke tanaman. Tidak hanya menjadi obat namun juga mengaktifkan biodinamik didalam tanah.

Setelah beberapa tahun, lahan pertanian yang tadinya keras seperti batu, lama-kelamaan menjadi lembut seperti mentega. Tanah menjadi subur, ditandai dengan banyaknya hewan lain yang tidak mengganggu tanaman. Bau tanah juga harum kompos, tidak lagi kimia. Kesuburan juga meningkatkan sedikit demi sedikit. Asal kalian tahu, pertanian organik itu awalnya memang tidak memuaskan, namun makin tahun makin produktif dan menyenangkan.

Petani didorong untuk berusaha sebisa mungkin mandiri. Dari benih, pupuk, dan pestisida. Mengurangi ketergantungan dengan pihak lain.

Modernisasi pertanian hanya akan merusak alam itu sendiri. Dalam jangka pendek, memang menjanjikan kualitas dan kuantitas yang baik. Tapi tidak dalam jangka panjang.

Tambah lagi, menurutnya, Makanan bukan hanya sekedar untuk mengisi perut agar tidak lapar. Tapi,makanan yang baik akan mempengaruhi pola pikir dan kewarasan manusia.

Quote: The food actually helps you make moral decisions and moral thoughts. It’s not just stuff to fill your stomach.

11 thoughts on “One Man, One Cow, One Planet 

  1. Nah iya… akhir2 ini makin banyak baca tentang bahwa makanan bisa mepengaruhii emosi, daya ingat, nalar seseorang ….

    Makanya di Alquran, juga makanan itu ga cuma halal, tapi diikuti dengan toyib…

    Ah masih butuh banyak belajar tentang makanan nih …

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s