Suatu Ketika di Jalan Kaliurang Jogja 

Assalamu’alaikum. Selamat Sore, teman-teman.

Syahdan, saya masih sering keluyuran di Jogja karena adik kandung perempuan kuliah disana. Setidaknya minimal sebulan sekalilah. Kadang sendiri, lebih banyaknya sama Ibu.

Setiap kesana pasti menginap dan esoknya baru balik ke Wonogiri.

Yang nyebelin adalah tidak bisa menumpang tidur di kosan. Ibu kos melarang laki-laki selain bapaknya untuk menginap, meskipun benar kakak kandung dengan bukti KK yang telah dilegalisir oleh pejabat berwenang, sang mami masih tak jua memberikan ijin. Jadi terpaksa saya mencari tempat menginap di sekitar kampus. Kadang bisa menggelandang di masjid, pom bensin atau di warnet yang buka 24 jam. Kalau di warnet cukup membayar paket 6 jam bisa tidur enak, nyaman, aman sekalian puas berinternet sampai tak tahu harus buka apalagi. Modal bawa gembok tebal untuk mengunci disc brake sangat disarankan.

Namun, jika uang agak berlebih, saya akan sedikit memanjakan punggung biar dapat bed yang empuk di hotel. Tapi masih dalam skala murah, meriah dan gratis sarapan. Maksimal 250.000 net.

Seperti hari itu, ketika rolling thunder tak tentu arah,  saya tak sengaja menemukan sebuah hotel sesuai kriteria di jalan Kaliurang. Nama hotelnya adalah Lido. Letaknya di pinggir jalan raya dan mudah terjangkau. Tarifnya beragam sesuai dengan fasilitas yang tersedia. Mulai dari kelas kipas angin sampai dengan private. Di hotel ini saya bisa langsung memarkir motor tepat di pintu kamar. Tanpa perlu jauh-jauh ke tempat parkiran.

Gerimis malam itu membuat saya kelaparan, rencananya sih makan di angkringan. Karena ogah banget ke restoran yangmana harus memakai outfit keceh. Kalau kesini ‘kan pake sandal jepit swallow warna ijo dan celana pendek fine aja. Kaki juga bisa mbedhingkrang diatas kursi. Dan saya beranggapan ke angkringan itu laki banget.
Maka turunlah saya dari Lido ke bawah jalan Kaliurang. Sesampainya di sekitar UII saya menemukan angkringan di  kiri jalan yang tampak  asyik disertai parkiran yang luas. Entah setan dan tuyul mana yang membuat stang motor saya belok kesana.

Setelah memarkirkan motor, saya kemudian masuk dan memesan es lemon tea. Segelas minuman favorit pagi siang dan malam. Sambil menunggu pesanan datang, saya mengambil nasi bungkus yang isinya bandeng secuil dikasih sambal. Makanya kami menyebutnya Sego Kucing. Dalam perjalanannya saya juga mencomot beberapa tempe mendoan, tahu isi dan sate telor puyuh. Makanan yang sederhana ini cukuplah untuk membuat malam itu dapat tidur dengan nyenyak.

Seperti biasanya, kultur angkringan adalah saling mengobrol antara pembeli dan penjual. Atau kalau topiknya menarik bisa saling antar pembeli, yang pada akhirnya menjadi diskusi yang seru. Malam itu mereka sedang diskusi masalah politik. Saya tak larut dalam obrolan mereka. Malas aja kalau pada NgomPol.

By the way, penjual angkringan tuh pasti ramah dan supel. Keramahan mereka itu ‌alami. Bahan obrolan dan sapaan tidak memiliki pakem SOP seperti tempat makan lain yang terasa kaku. Itulah salah satu yang membuat saya rindu.

Seperti obrolan dibawah ini, penjual yang masih muda dan ganteng itu bertanya dengan mantab tanpa dibuat-buat.

Eh mase, sue ora mampir mrene jajan, ngandi wae, Mas? Opo lagi sibuk?

Halah, saya kaget dong. Hlawong baru pertama kali kesitu kok malah diberikan pertanyaan seperti ini. Atau jangan-jangan masnya ini adalah teman lama yang jarang jumpa. Setelah mikir beberapa detik, saya pastikan bahwa mas ganteng ini tidak ada dalam daftar pohon teman pertemanan. Saya dilema untuk menjawabnya. Mau jujur atau enggak. 

Ada dua opsi pilihan jawaban untuk meredakan situasi yang aneh ini.

Pertama, saya menjawab “Oh maaf ya, Mas, saya baru pertama kali kesini kok!” Jawaban jujur tak ada dosa, tapi ini akan mengakibatkan sang penjual itu malu luar biasa di hadapan pembeli yang lain. Mereka akan cekikikan melihat kelakuan sok kenalnya. Ingat, malu itu salah satu penyakit hati yang tidak dapat disembuhkan.

Kedua, saya akan menjawab tak jujur. Akibatnya, akan menambah poin dosa saya mencapai limit. Namun, ini akan menyelamatkannya dari rasa malu.

Jadi, akhirnya saya dengan entengnya menjawab:”Iya, Mas, udah lama banget ya?Saya lagi balik ke kampung, Mas. Karena udah selesai kuliahnya sini. Makanya malam ini saya menyempatkan diri mampir di tempat, Mas. Saya kangen wedangan disini.”

“Oh ada urusan apa Mas ke Jogja?”

Ngindhangi Adikku enek Condong Catur kono, Mas”

… dan poin saya makin lama makin menumpuk. Banyak noda hitam dalam catatan dosa saya malam itu. Satu kebohongan ditutupi dengan kebohongan yang lain. 

Memang sih ada peribahasa untuk mengatakan kebenaran meskipun itu akan pahit, namun kondisi yang sedang saya jalani  saat itu bersifat pahit di dia manis untuk saya. Maka saya memilih untuk membagi manis itu untuk kami berdua. So sweet, kan?

Somehow, bagi saya memang kadang kita perlu untuk sedikit berbohong untuk menyelamatkan muka orang lain. Suatu saat nanti, akan ada orang lain yang bersedia untuk berbohong hanya untuk menutupi aib kita. Kalau kita hanya memikirkan diri sendiri sih namanya egois.

Wassalam
.

43 thoughts on “Suatu Ketika di Jalan Kaliurang Jogja 

          1. Yup kuliah, smpai sekarang tman2 yg di Jogja msih ttp komunikasi. Tapi ga semua yg pernah kuliah di Jogja tau btul dengan Jogja. Kalau aku Alhamdulillah smpe gang2 sempit aja aku tau…😄😄😄

            Like

            1. Iyuuh. Padahal gangnya banyak dan suka bikin bingung karena kadang nikungnya halus..jadi buta arah. Macam di sekitar stadion itu 😂. But.. sekarang Jogja makin macet, apalagi dari nol km ke arah timur itu. Wasalam deh.

              Like

              1. Aku hapal betul Jogja mas bro, mungkin lebih tau dripada orang Asli Jogja…😂😂😂

                Stadion Mandala Krida atau stadion Kridosono atau yg maguwoharjo atau UNY punya?

                Semacet2nya Jogja bisa melesat dengan cepat kalau pake motor mas bro. Tapi, pake motor yg cowok coz mudah ngontrol kecepatan karena ada kopling.

                Dri no km ke timur dri perempatan kantor pos besar melewati per4an katamso, lewat jembatan Sayidan, ada pertigaan Bintaran, terus jalan Sultan Agung, ada per3an lagi klo kekanan jln Tamsis, trus melewati SGM dan Bonbin, trus2 ringroad melewati Jogja Expo Center..belok kiri lewati fly over janti trus2 ke Bandara…😄😄😄

                Like

              2. Mandala mas, kan kalau dari arah selatan nikungnya alus.

                Wih.. bener bener udah khatam nih. Mbolang terus ya, Mas?? Pasti dipuas puasin disana sebelum balik kota kelahiran ya?😂

                Like

      1. oh ya pantesan rasa susu jahe yg di jogja dan jakarta beda, yg di jogja selalu lebih pedas. jogja selalu ngangenin pokoknya, dulu saya juga kuliah disana *siapa yg nanya?hehe*

        Like

  1. Jalan Kaliurang… sekarang sudah jauh berbeda dari Jakal zaman kuliah dulu 😅 tapi kangennya tetep… jadi kepikiran lesehan langganan dulu… apakah masih di situ 😢

    Like

      1. Iya, Insya Allah akan diagendakan ke Jogja. Siapa tau nanti bisa sekalian ketemuan sama Mas Seta dan teman-teman blogger Jogja dan sekitarnya 😀

        Like

  2. Wahh… dilema emang pasti kalau di hadapkan ama pertanyaan kaya gitu. Atau emang mas mas nya bilang gitu ke semua yang datang. Biar jalin keakraban. Atau mas mirip pengunjung setianya,bisa juga … (Mencoba menganalisis….hhee)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s