Sendang 

Assalamu’alaikum.

Desa kami memiliki sebuah sendang. Seingat kami, airnya tidak pernah mengering meskipun kemarau panjang yang parah.

Letaknya di bawah bukit di sela-sela dua batu besar yang kokoh. Sendang itu terlindung dari panas, sebab didekatnya terdapat sebuah pohon jati besar tinggi menjulang yang sudah mengering. Kami sering menamakan pohon itu sebagai danyangan. Tak pernah ada yang berani untuk memanjatnya. Karena konon katanya siapa aja yang tidak sopan terhadap pohon itu, akan menderita sakit aneh yang sulit untuk disembuhkan. Ha ah hanya mitos.

Namun keanehan terjadi ketika kepala desa memiliki inisiatif untuk membangun sendang itu sebagai sumber pemasukan desa. Rencananya,  air dari Sendang ini akan mereka tampung disebuah tandon khusus di dekat rumah warga terdekat. Kemudian, air akan mengalir ke setiap rumah yang menjadi pelanggannya. Setiap bulan mereka akan membayar uang secara flat. Artinya seberapa banyak mereka menghabiskan air, entah itu satu meter kubik atau 25 meter kubik, mereka akan mengeluarkan uang sama. Ini jelas sangat menguntungkan bagi konsumen. 

Uang yang terkumpul akan mereka gunakan untuk biaya perawatan peralatan, menggaji karyawan, beban listrik dan sisanya untuk menambah pendapatan desa. Pendapatan ini nantinya akan bermanfaat untuk memperbagus infrastruktur desa. Misalkan menghaluskan jalan, gapura, cat, lampu jalan, dan banyak yang lainnya.

Karena ini murni untuk mendapatkan keuntungan, penduduk dari luar desa boleh untuk ikut mendaftarkan diri tanpa syarat khusus. Maka dalam waktu singkat mereka berbondong-bondong untuk menjadi pelanggan.

Namun, ketika semua infrastruktur sudah terpasang sempurna. Sendang itu tiba-tiba saja menjadi kering. Dalam sekali hisap pompa air, sendang langsung kering dan tak kembali lagi. Padahal, bertahun-tahun sebelumnya, warga sekitar sudah meletakan pompa air hingga sebanyak tujuh buah. Namun, airnya masih aman-aman saja. Dengan kejadian ini, panik lah semua warga yang sudah mengeluarkan biaya pemasangan paralon. Mereka yang merasa rugi, akhirnya berembug untuk mencari solusi yang jitu.

Setelah bermusyawarah dengan berbagai pihak,  mereka menemukan solusi dengan cara menggali sendang itu lebih dalam. Harapannya, agar air lebih lancar keluar seperti sediakala. 

Namun harapan itu tinggal harapan. Air tak pernah lagi keluar dari sana. Sepertinya mereka melakukan kesalahan fatal dalam penggalian. Maka saling tudinglah siapa yang salah siapa yang benar. Semua pihak yang terlibat menggunakan alibi masing-masing untuk membenarkan dirinya sendiri dengan mencari borok yang lain. So classic. 

Akhirnya, infrastruktur mahal yang telah dikeluarkan dari dana masyarakat terbengkalai tak ada guna.

Dari sini masyarakat tak pernah belajar. Bahwa mengakali alam secara ngawur hanya akan memberikan kemanfaatan yang singkat.  Kerugian yang didapat akan berefek lebih lama dari apa yang mereka duga.

Tak hanya sekali, bahkan berkali-kali. Sumber air yang biasanya dapat menghidupi banyak orang, ketika diakali untuk menjadi keuntungan, maka dalam kurun waktu beberapa tahun saja mengering. Lingkungan yang ada di sekitar pun juga akan terkena dampaknya. Sumur rumahan semakin dalam untuk mengejar air yang digunakan secara rakus.

Kesimpulannya, jika alam sudah banyak memberi kita keuntungan dan kemudahan, maka jangan sekali-kali mengakalinya secara serakah hanya untuk mengambil keuntungan yang lebih besar. Hiduplah selaras dengan alam. Maka alam akan melindungi kita juga.

Wassalam.

22 thoughts on “Sendang 

      1. Hehe iya rame rame, tapi sendangnya sudah tersedia dua bilik untuk putra dan putri, kebetulan daerah saya dulu termasuk sulit air jadi semua penduduk mandinya ke sendang, bahkan dulu setiap plg dari sendang saya selalu mikul air untuk kebutuhan air bersih di rumah

        Maaf jadi banyak cerita 😅

        Like

  1. Sendang itu mata air ya? Kalo di kampung aku air yang disalurkan ke warga adalah air gunung dikelola oleh DKM, sama seperti itu bayarnya flat, tapi kemudian banyak yang tidak bertanggung jawab menggunakan air sesukanya sehingga tarif berubah disesuaikan pemakaian. Tapi karena digunakan untuk kemaslahatan umat, alhamdulillah dan insyaallah air mengalir lancar.

    Like

  2. Kalimat pada bagian akhir tulisan ini, luar biasa!
    Ketika membaca tulisan ini, saya jadi ingat dengan apa yang terjadi di kampung saya, kak. Saat ini, masyarakat seakan dihukum oleh perbuatannya sendiri karena secara serakah mengeksploitasi alam hanya untuk keuntungan sendiri dan golongan. Banjir terus menerus terjadi, hasil hutan pun sudah tidak menjanjikan seperti yang dahulu.

    Like

  3. Di kampung saya sumber air nya malah dijual ke pemerintahan Kabupaten Tegal, miris sekali, warga di sini padahal masih butuh air buat keseharian dan juga mengairi ladang.

    Btw warga di sini juga masih kurang peka terhadap alam, dengan alasan kekurangan lahan, mereka menjarah wilayah hutan sebagai lahan. Entah ke depan nya akan seperti apa jika masyarakat tak bisa bijak dalam hal ini.

    Like

    1. Mas coba saja dicek, dlm radius 5km situ ada tdk perusahaan air mineral atau PAM. Bisa jd memang sendangnya mmg sdh bnyk perusj yg incar. Kejadian serupa pernah tjd ,dg gejala yg sama. Tdk hrs mengebor di lokasi untuk menghilangkan air..

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s