Reaksi Terhadap Zonasi Sekolah

Selamat malam teman-teman. Tulisan kali ini bukan milik saya. Selamat membaca.

***

Ketika saya sekolah SD, di kabupaten tempatku sudah ada sekolah SD terbaik , yang muridnya anak-anak yang berasal dari lingkungan sekitar sekolah itu, yaitu anak-anak dari perumahan pegawai atau anak-anak pejabat di Kabupaten. Sekolah itu sangat diminati jadi populer dan jadi pilihan pertama masyarakat bersekolah disitu.

Namun oleh ayah dan ibu, saya dipilihkan bersekolah di sekolah yang bukan sekolah terbaik itu. Saya dimasukkan di sekolah yang muridnya terdiri dari anak petani, nelayan dan saudagar. Sekolah yang muridnya anak-anak orang tak mampu. Sangat bervariasi latar belakang muridnya. Saya sangat keberatan. Rasanya tak bergengsi apalagi bersekolah tidak bersama-sama dengan teman kompleks perumahan kami.

Ayah mengatakan lingkungan sekolah yang dipilihkan, sangat baik untuk membentuk karakter saya jadi orang yang mulia (santun, rendah hati, pandai menghargai orang dan yang utama tidak sombong dan suka pamer kelebihan khususnya kelebihan orang tuanya karena anak pejabat) .

Ini Kata Ayahku ketika membujukku

“Ilmu itu gampang nak, bisa kita dapatkan dimana-mana, tidak harus disekolah terbaik, jika kita tidak tahu, banyak yang bisa beri tahu atau kita baca buku …sudah kita jadi tahu “

“Keterampilan juga itu gampang nak…jika kita tidak terampil, dapat dilatihkan di mana-mana maka kita jadi terampil”

“ Namun karakter yang baik itu susah, karena bukan saja diberitahu dan dilatihkan, namun mesti dibiasakan dalam kurun waktu yang lama… dengan siapa kita bergaul memberi sumbangan besar pada karakter yang mau dibiasakan itu.

Bergaul dengan anak-anak yang rendah hati, yang hidup dalam kekurangan, yang terbelakang, yang tidak memiliki apa-apa, dengan latar belakang yang berbeda… kau bisa belajar banyak dan itu memperhalus budimu.

Minimal kau tahu mensyukuri apa yang kau miliki, maksimalnya kau tidak sombong”

Tidak ada yang bisa di miliki jika sombong selain bermulut besar dan berkepala besar, namun jika kamu berbudi mulia maka kamu punya hati terbuka luas seluas samudera, yang karena luasnya kau bisa memiliki apa saja yang kamu inginkan, orang mau melakukan apa saja buat pemilik hati yang lapang.

Benar kata Ayahku dengan bersekolah ditempat yang sederhana dengan guru-guru yang bersahaja menumbuhkan karakter yang luar biasa baiknya pada diriku. Saya menerima manfaatnya.

Akhirnya ketika saya pindah ke kota besar saya juga hanya memilih sekolah yang biasa saja, malah sekolahku selalu kena banjir setiap tahun, memang bukan sekolah favorite tapi makna kehidupan yang sebenarnya getarannya lebih bisa saya rasakan disekolah itu.

Tradisi ini saya teruskan, Anak-anakkupun hanya bersekolah di sekolah yang sederhana dan biasa saja. Namun tidak menghalangi langkah besarnya menjadi penerima bea siswa full bright untuk bersekolah di belahan bumi lain di Amerika, pada universitas terbaik dinegeri itu, sukses jadi alumni terbaik dengan predikat cumlaude.

Terima kasih Ayah. Kini baru saya sadari manfaat dari pilihan dan percakapan kita dulu.

Saya selalu menjaga kebanggaan yang ayah katakan bahwa lebih bangga memiliki anak yang berbudi mulia. dari pada pintar namun berprilaku buruk.

Daswatia Astuty. Kapus P4TK Matematika Yogyakarta.

Have a nice dream bro.

22 thoughts on “Reaksi Terhadap Zonasi Sekolah

  1. Wah, saya dulu malah sempet malu dan kesel karena sekolah di SMA baru dan jadi angkatan pertama. Hhiii, tapi ngelihat alumnusnya dah pada banyak yang sukses, baik yang bisa kuliah di PTN lewat SNMPTN (sebelum diganti SMBPTN pa ya?) atau bisa kerja di perusahaan besar di pulau seberang. Saya pun jadi terharu juga, ya pada akhirnya dimanapun kita bersekolah, setiap siswa punya potensi yang sama ya.

    Eh, nyambung gak ini. Hhaa

    Liked by 1 person

  2. Bener mas. Yg sy sesali itu adek sy jd ragu masuk skolah negeri sdngkn sklh swasta kn lebih besar biayanya. Blm lagi karna lingkungan rumah kami yg ga baik pergaulannya dia ga mau masuk sklh negri daerah tempat kami. Em..

    Like

  3. Ini berkaitan dengan PPEB juga ya. Kata kakak ipar saya salah satu alasan kenapa ada aturan zonasi adalah agar siswa tidak terlalu jauh pergi dari rumahnya. Apalagi banyak yang menggunakan sepeda motor. Untuk ukuran pelajar yang belum 17 tahun seharusnya tidak membawa kendaraan ke sekolahnya karena rawan kecelakaan disebabkan kelabilan jiwa sangat mengemudi dan inginnya ngebut di jalanan. Tentu alasan lain tentang zonasi masih banyak lagi.

    Tulisan ini dari blogger Daswatia Astuty. Kapus P4TK Matematika Yogyakarta? (kapus atau kampus)

    BTW, saya buka di browser komputer, tema blognya sepertinya diganti ya?

    Like

    1. Alasan sebenarnya, sejauh yang saya tahu, zonasi digunakan agak menghilangkan efek sekolah favorit. Sehingga di harapkan, peserta didik dapat tersebar merata.
      Zonasi juga akan memberikan efek rotasi ke guru guru yang favorit di rotasikan ke sekolah non favorit.

      Iya mas, ini bukan tulisan saya. Seperti yang saya tulis itu.

      Tema blog saya? Masih sama kok mas.

      Like

          1. Kalau urusan tema, saya tidak mudah tergoda. Setia aja dah 😀 malas bongkar pasang tema. Bisa berakibat turun di peringkat google. Utamanya kalo sudah ngrasa dengan tema yang dipakai. Makin tambah males lagi untuk Gonta plus ganti.

            Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s