​Memanen Air dari Langit

 

teaser_image_40

Selamat Pagi,  teman-teman. Sebenarnya tadi saya mau menuliskan judulnya seperti ini “Harvesting Water from The Sky” tapi sepertinya terlalu epik deh,  maka saya menggantinya menjadi bahasa Indonesia sahaja. 

Saya tuh selalu tertarik dengan sesuatu yang berhubungan dengan alam serta pemanfaatannya demi kebutuhan manusia. Karena tertarik, maka segalanya saya pelajari dengan sungguh-sungguh. Saya akan mencari referensi apapun dari pokok sampai pucuk, dan tidak akan puas hanya dengan satu sumber saja. Perhatian saya tidak hanya terhadap literatur yang utama namun juga yang diabaikan orang.

Ini mungkin karena saya lahir di daerah yang sulit air, maka ketertarikan itu akan condong terhadap pencarian sumber air yang mudah – murah, pengelolaan yang bagus serta inovasi lain yang berhubungan dengan penyuburan dan penghijauan daerah tandus.

Anak kampung sih, mainnya ya selalu dengan alam.

Dahulu saya mengira bahwa untuk mendapatkan air  itu harus menggali tanah membuat sumur, menampung air hujan, menyaring dari air laut, meremas lumut-anak gunung pasti tau donk lumut trik ini, atau mendapatkan kelembaban tanah.

Cara-cara diatas sudah saya pelajari sejak masih duduk disekolah dasar atas arahan guru IPA favorit-Pak Agus. Ditambah lagi dengan ilmu survival yang diajarkan babe waktu beliau masih suka berburu burung di hutan.

Tapi, saya baru tahu bahwa di belahan dunia lain sana – Chile, Peru, Ghana, Eritrea, dan South Africa, ada beberapa daerah tertentu yang mendapatkan air dengan cara memanen kabut dan awan untuk dijadikan sebagai sumber air sejak lama. Bagi saya, itu awesome banget, dulu saya juga pernah berpikir untuk memanfaatkan kabut itu untuk sesuatu yang besar tapi ya hanya angan-angan belaka.

jaring rafia

jaring embun

Bagaimanakah caranya mereka memanfaatkan kabut dan awan ini? 

Singkat cerita, selama ini mereka mengalami kesulitan untuk mendapatkan sumber air yang memadai. Ada sih ada, tapi letaknya sangat jauh dibawah perbukitan sana. Mereka harus melewati lereng dan lembah untuk mencapainya.

Maka beberapa ahli mencoba mencari jalan keluar untuk mengatasi masalah ini dengan memanfaatkan situasi dan kondisi disana semaksimal mungkin. Dan untunglah, disana terdapat banyak kabut yang berlalu. Mereka mengamati bahwa kabut ini sebenarnya dapat membuat lembab area tersebut, maka dari itu para ahli kemudian melakukan beberapa percobaan untuk memanfaatkannya sebagai sumber air. Maka terciptalah, fog catcher itu. Bentukya sih sederhana, hanya berupa net yang dibentangkan dengan tiang yang disesuikan. Tidak lagi memerlukan teknologi tingkat dewa dan perawatan mahal, yang rakus duit.

Fog catcher ini mereka dirikan dibeberapa tempat yang sering dilewati kabut. Mereka mendirikannya berlawanan arah dengan kabut tersebut, ini dimaksudkan agar daerah penangkapan menjadi lebih luas. Terlalu banyak kabut ya?? 

Net ini berfungsi untuk menangkap dan menampung titik kecil air yang dibawa kabut. Kemudian setelah tertangkap, dia akan berkumpul dengan titik kecil lainnya  lama kelamaan akan terkondensasi dan akan menjadi tetes air. Ketika sudah terkumpul banyak,  dia akan mengalir ke bawah melalui pipa yang berakhir di penampungan dulu sebelum dibagikan ke rumah – rumah.

Dalam satu hari,  air yang dapat dipanen dapat mencapai sekitar 100 liter. Semakin tebal kabutnya maka semakin banyak pula hasil tangkapannya.

Air ini sudah  bersih, hampir tanpa perlu pengolahan lagi. Namun sayangnya tidak bisa diminum. Hanya bagus untuk pengairan dan kebutuhan rumah tangga, seperti mencuci dan lain-lain.  Dengan ini akan jauh menghemat kebutuhan air pokok untuk minum dan memasak. Mungkin dengan pengolahan tertentu bisa diminum. 

Dengan sumber air yang tidak terbatas ini, sekarang mereka dapat bercocok tanam di lahan kering  dan menghasilkan bahan makanan sendiri yang beraneka ragam. Dan hasilnya dapat meningkatkan ekonomi. 

Solusi ini sangat mudah dan murah serta memiliki efek jangka panjang yang bagus, efisiensi tinggi serta minim penggunaan sumber daya manusia. 
***

Meskipun sangat menjanjikan,  metode ini tidak dapat diterapkan disemua tempat. Tempat itu harus ada kabut yang konsisten. Misalkan di daerah dekat pantai atau daerah dataran tinggi. Kabut juga tidak ajeg  keberadaannya, kadang iya kadang enggak, maka dari itu dibutuhkan penampungan air yang besar untuk menjaga kemungkinan berhentinya kabut disaat tertentu.

Last, dengan demikian, Allah sudah memberikan banyak kemudahan kepada kita semua seburuk apapun kondisinya, hanya saja kita kadang tidak mau untuk berpikir mencari solusinya, padahal solusi itu sebenarnya sudah didepan mata.

Jadi, nikmat Tuhan mana yang engkau dustakan?

Eh, kayaknya besok mau bikin yang lebih sederhana nih, bukan penangkap kabut, tapi penangkap embun.


Have a nice day,  bro. 

36 thoughts on “​Memanen Air dari Langit

  1. Eh, tapi di desaku, masih ada yang meletakkan gelas kosong di malam hari, lalu pagi harinya kan keisi sama air embun tuh, lalu diminum, katane air murni gitu…

    Air kabut sama air embun beda kah?

    Liked by 2 people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s