Buku Yang Kedua

Selamat Pagi, teman-teman!

Buku yang kemarin saya temukan di gudang adalah Twenty Thousand Leagues Under The Sea.  Dan Ternyata, masih ada satu lagi buku yang terselip di antara tumpukan LKS bekas.

Warna sampulnya merah bata. Sudah hard cover. Kondisinya masih sempurna. Halamannya juga masih lengkap sampai terakhir. Kertasnya juga masih bagus banget. Sehingga Saya tidak perlu sangat berhati-hati untuk membuka lembar per lembarnya.

Buku itu berjudul Ordeal. Sebuah Trilogi Karya Aleksey Nikolayevich Tolstoy (di bukunya di tulis Alexei Tolstoy). Terbitan tahun 1953 oleh Progress Publishers, Moscow, USSR (Union of Soviet Socialist Republics).

Ordeal sendiri terdiri dari 3 seri-namanya saja trilogi. Seri satu adalah The Sister, Seri dua adalah 1918 dan seri terakhir adalah Bleak Morning. Sedangkan buku yang saya miliki sekarang adalah yang seri ke dua.

Ordeal mengisahkan tentang pencarian kebahagiaan oleh tokoh tokoh  Dasha, Katya, Telegin, dan Roschi selama masa Perang Dunia 1 dan masa revolusi Rusia.

Karya Tolstoy kebanyakan bertema perang, sejarah dan muram. Sesuai dengan masa di mana dia menuliskan semua karyanya.  Karya yang lain di antaranya Nikita’s Childhood (1921),The Road to Calvary, a trilogy (1921–40), Aelita (1923), The Hyperboloid of Engineer Garin (aka The Garin Death Ray) (1926), Peter I (1929–34), A Week in Turenevo (1958).

Mengenai bukunya, berbeda dengan bertemu buku pertama, saya datar-datar saja menerima nya. Karena awalnya saya tidak tahu apa apa tentang buku ini. Saya juga tidak tahu bahwa ini adalah novel. Dan tidak mengerti ini adalah buku bagus. Lagian ini hanya tambahan dari buku pertama. Harganya juga sama dengan Twenty Thousand Leagues Under The Sea yaitu 10.000. Namun, ketika saya mengecek di Internet tadi pagi, ternyata buku ini di hargai 52 dollar atau kalau di rupiahkan menjadi sekitar 670 an ribu.

Sebagai penutup postingan singkat ini, di bawah ini saya mengutip tujuan Tolstoy mengarang Ordeal.

Semoga kita dapat memetik pelajaran darinya.

It’s time to begin studying the Revolution, it’s time for the artist to become a historian and a thinker… I not only acknowledge the Revolution – with such acknowledgement alone it would not be possible even to write a novel – I love its dark majesty, its world-wide scope. And that is the task of my novel – to create this majesty, this scope in all its complexity.”

Have a nice day bro.

4 thoughts on “Buku Yang Kedua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s