Membuat dan Mendesain Brosur Menggunakan Adobe Photoshop

(Eh keliatan jam-nya)

Tadi sehabis sholat subuh, saya sedang enak enaknya minum kopi di depan rumah. 

Saya harus memulai hari ini dengan rasa kantuk yang tidak tertahan, karena semalam saya bergadang untuk menyelesaikan data di Dapodik untuk semester genap. Dan tiba tiba,  Mak kunthing,  tanda ada pesan WhatsApp masuk bukan dari grup. Saya selalu membedakan bunyi notifikasi yang berlainan, agar saya dapat memilah milah mana yang harus segera saya buka mana yang tidak. Dari kluntingnya itu saya tahu bahwa yang mengirimkan adalah orang penting.

Setelah saya membuka pesan itu, isinya ;

Mas, brosur dan bannernya sudah jadi belum?”. Dari Pak wakil Kepala Sekolah Bagian Kurikulum. Saya tahu beliau saat itu sedang minum teh di sekitar alun alun Kabupaten sehabis jogging.

Haiiyaah..  kopi menjadi terasa pahit lagi, padahal tadinya nikmat-nikmat saja. 

Kemudian saya membalas ,

Saya baru selesai mengerjakan 50%, Pak, karena beberapa foto yang saya inginkan masih belum ada.” Ngeles. 

Di selesaikan secepatnya ya, Mas. Ini sudah saya buatkan proposal untuk BMT agar pembiayaan brosur dan banner bisa di minimalkan. Mereka mau menjadi sponsor untuk kita” 

Enggih, Pak.” 

Singkat tanpa basa-basi.

Saya kembali ke kamar dan menyalakan Laptop. Kemudian membuka Adobe Photoshop CS 3. Yap benar, saya masih menggunakan versi CS 3, itupun yang portabel jadi tidak memerlukan instalasi permanen seperti Adobe Photoshop betulan.

Untuk urusan aplikasi, baik di komputer maupun di gawai, saya tidak rewel untuk menggunakan yang versi terbaru. Yang jelas saya lebih suka menggunakan mana yang dapat membuat saya nyaman.

Ada sih sebenarnya aplikasi dari Microsoft yang dapat dengan praktis di gunakan untuk membuat brosur  yaitu Microsoft Publisher. Tinggal memilih desain serta layout mana yang cocok, dan hanya beberapa klik maka kun fayakun, jadilah brosur. 

Namun ini terlalu basic.

***

Alasan kenapa saya masih menggunakan aplikasi uzur ini antara lain;

  • Ringan.
  • Saya tidak membutuhkan tool canggih macam macam.
  • Laptopnya sudah ngos ngosan untuk aplikasi berat, hla wong hanya memakai prosesor Intel Celeron N2830 , 2.1 Giga Hertz dengan RAM 2 GB saja. Hanya Asus x200 MA, bukan yang Republic of Gamer itu.
  • Saya hanya menggunakan tool crop, blending, drop shadow, rotate, clone stamp, lasso, opacity, dan text. Sudah itu saja.

Langkah langkah yang saya lakukan untuk membuat brosur sebagai berikut :

  • Memutuskan jenis kertas dan brosur yang akan di pakai nanti, apakah kertas F4, A4, A3 atau malah  A1, ha ha,. Apakah yang model lipat dua atau lipat tiga atau malah tidak di lipat. Eh itu namanya flyer ding.
  • Membuat sketsa awal. Ini nanti berguna sebagai patokan dasar peletakan semua elemen brosur. Bisalah menggunakan kertas sesuai ukuran brosurnya nanti.
  • Mengumpulkan foto foto kegiatan sekolah. Mulai dari kegiatan di laboratorium, kegiatan Marching Band, Korban, Sholat Berjamaah, Outbond,  Study Tour, Kegiatan Amal dan masih banyak lainnya.
  • Menyiapkan teks yang akan di masukkan ke dalam brosur. Tinggal salin tempel aja nih.
  • Mempersiapkan background untuk keseluruhan brosur. Karena saya tidak ahli dalam membuat desain aneh aneh, maka saya menggunakan google saja lah untuk mencari background yang bagus dan sesuai selera. Cepat dan efektif.
  • Mempersiapkan elemen pendukung brosur. Misalkan gambar surat, icon facebook, garis, lingkaran dan efek pemanis lainnya.

Setelah semua itu lengkap, maka langsung ke meja kerja Photoshop. Oh ya selain menggunakan Photoshop saya juga menggunakan Snapseed untuk mempermudah pekerjaan mengedit foto yang tidak terlalu glowing. Atau untuk menambahkan gaya teks yang iconic. Gah repot pokoke. Sebelum mengenal software itu dahulu saya menggunakan Photoscape untuk menggabungkan beberapa foto dengan efek yang bagus dan cepat. Eh kalau malasnya sudah akut saya cari yang online saja.

Dalam mendesain brosur, saya sering mendapatkan protes dari teman-teman karena absennya foto guru guru. Saya beralasan sederhana, saya paling ogah untuk memasukkan foto guru yang sedang berderet di depan sekolah itu. Terlalu mainstream lah ya. 

Kalau masih ngeyel dengan keputusan nyeleneh ini kemudian saya mengeluarkan kata-kata sakti seperti ini, “ kalau seperti itu lebih baik yang mendesain orang luar saja, Pak, Bu. Nanti bisa seperti keinginan njenengan.”.  Biasanya mereka akan menjawab, “ Yo wis neknu.”

Deal.

Ok lanjut, setelah itu saya melakukan langkah-langkah seperti ini di CS nya. 

  • Membagi  kertas menjadi 3. 
  • Memasukkan background utama.
  • Memasukkan teks.
  • Memasukkan gambar kegiatan.
  • Memasukkan elemen pendukung.
  • Mengatur sedemikian rupa sehingga semua warna menjadi pas. Eh ingat ya, warna di monitor akan berbeda dengan hasil cetak (mungkin) dengan catatan kalibrasi nya salah, ha ha. Sebaiknya menggunakan warna yang sama, kita hanya tinggal memainkan opacity nya saja. 
  • Save dalam ukuran maksimal. Saya biasanya satu page sekitar 150 an mb. Eh ya ini membutuhkan 2 page ya, satu untuk depan satu lagi untuk belakang.
  • Yang terakhir adalah Save for Web. Di simpan dalam format JPEG kualitas maksimal. Untuk selanjutnya di kirimkan ke percetakan.

Saya paling tidak mau menuruti percetakan untuk mengirimkan file dalam bentuk mentah (PSD). Alasannya karena mereka sering mengotak atik desain saya sesukanya dengan tujuan entah apalah saya tidak tahu. Jadi saya selalu mengirimkan dalam format JPEG. 

Bersungut-sungutlah mereka. Ha ha.

Pernah dulu sekali mengirimkan file mentahnya, namun hasilnya malah mengecewakan. Banyak di pindah pindah letaknya dan bahkan desain dasar saya mereka menggunakannya untuk tujuan komersial. 

Mereka juga memberikan saran untuk menggunakan Corel Draw untuk menyusun brosur, namun saya sudah malas untuk belajar Corel, toh juga hasilnya sama. Mereka beralasan bahwa nanti hasil separasi warnanya mungkin akan berubah ketika sudah menjadi brosur atau mungkin nanti ada beberapa graphic yang pecah, sedangkan jika menggunakan Corel tidak akan pecah karena berbasis vector. Saya menjawab tak apalah kalau hanya sedikit melenceng warnanya, asalkan sebenarnya warna hijau menjadi biru. Eh ini karena tinta kuningnya habis ding. Hlah kan kalau urusan itu bukan saya yang repot? Kan mereka ? 

***

Karena  saya tidak mendesain dari nol. Maka saya dapat berkonsentrasi penuh untuk layouting.

***

Dan akhirnya sampai detik ini saya hanya menyumbangkan kemajuan 30 % saja. Padahal tadi pagi saya mentargetkan hari ini harus selesai. Tadi juga rencananya sambil di kerjakan di sela sela mengajar. Namun apa daya, saya malah di berikan tugas tambahan untuk memasukkan data untuk mengikuti Gala Siswa Indonesia, dimana hari ini adalah deadline nya.

Sebenarnya kalau di kerjakan secara fokus, dalam waktu 3 jam saja sudah selesai. Yang menjadikan lama hanyalah mengumpulkan bahan bahan pendukungnya. Kalau sudah lengkap, saya hanya tinggal tempel sana dan tempel sini. Fix. 

Huft, serasa menjadi pegawai Tata Usaha saja.

Haduh tulisan saya kok semakin lama semakin panjang ya.

End.

16 thoughts on “Membuat dan Mendesain Brosur Menggunakan Adobe Photoshop

  1. Nada dering saja dibedain ya? Mas orangnya sistematis bener.

    Wah, saya juga dulu pernah main ma photoshop. Tapi ya cuman sekedar edit tempel doang, gak sampe bikin desain brosur gitu. Hhii

    Btw emang males belajar Corel draw, tools nya praktisan photoshop.

    Like

    1. Iya mas, hla terlalu banyak kontak sih..rata rata bapak bapak yang baru suka memakai wa.

      Ya sma mas, saya membuat brosur itu hanya tempel tempel doank dari internet.

      Iyaa, kakean.. untuk model seperti saya yang gak kreatif ya males banget belajar Corel

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s