Nostalgia Printer Dot Matrix

dot-matrix-printer

Tadi pagi saya dapat bagian untuk piket di sekolah. Kegiatan piket hanyalah menunggu sekolah agar tidak kosong, sehingga jika ada tamu yang datang untuk suatu keperluan kami tidak akan malu.

Karena tidak ada kegiatan saya jalan-jalan dan membongkar beberapa barang lama di laboratorium komputer di lantai bawah. Di laboratorium banyak komputer yang sudah tidak kami pakai lagi. Bukannya rusak atau apa, namun spesifikasinya sudah sangat jauh ketinggalan jaman. Untuk gambaran betapa lamanya komputer itu, saya melihat ada beberapa hardisk yang berkapasitas 1 giga saja. Dengan jumlah segitu komputer sudah dapat menjalankan sistem operasi windows 98 SE lengkap dengan office.

Di samping beberapa komputer tersebut ada beberapa printer dot matrix yang sudah berdebu.

Printer yang berisik ketika memakainya. Meskipun hanya satu namun kekuatan suaranya sampai dapat menembus tembok sebelah. Bisa di bayangkan jika dalam satu kantor memiliki beberapa printer jenis ini, sudah seperti pabrik saja rasanya.

Untuk koneksi dengan PC tidak menggunakan USB namun menggunakan parallel connector (25 pin) yang sekarang sudah tidak pernah di gunakan untuk komputer baru. Dia tidak menggunakan tinta untuk mencetak. Dot matrix menggunakan pita seperti mesin ketik.

Ketika kuliah dulu saya masih menjumpai printer dot matrix di kampus. Printer yang dapat digunakan secara bebas oleh mahasiswa untuk mencetak transkrip nilai. Printer ini kinerjanya lambat banget, untuk mencetak satu lembar saja membutuhkan hampir satu menit. Maka sungguh memalukan ketika kami mencetak transkrip nilai kemudian banyak mahasiswa yang menonton. Apalagi ketika memiliki IPK di bawah 2 koma, harus menahan malu sampai huruf terakhir tercetak.

Dengan ini harus siap mental menghadapi sorot mata dan senyum mengejek dari teman-teman mahasiswa yang juga sedang mengantri. Kadang bagi yang memiliki IPK tinggi suka memamerkan dengan cara mencetak beberapa lembar transkrip nilai.

Dan akhirnya setelah beberapa semester, printer-printer tersebut langsung diganti dengan jenis laser sepenuhnya. Saya sangat suka, karena ketika mencetak maka hasilnya akan tertelungkup tidak kelihatan.

Ketika sedang latihan bekerja saya juga masih menghadapi printer ini, karena merupakan satu satunya printer yang dapat digunakan untuk mesin sheet jadul itu.

Mesin itu tidak membutuhkan listrik untuk menjalankannya, kami hanya membutuhkan hasil cetakan dari printer dot matrik, kertas buram, kertas khusus dan tinta seperti pasta. Cara kerjanya hanya memutar mutar tangkai mesin itu sebanyak yang kami inginkan.

 

11 thoughts on “Nostalgia Printer Dot Matrix

  1. Saya sempet makai, dulu pertama kali kerja printer untuk bikin tagihan masih pakai itu. Kemudian sebulan setelah saya masuk, akhirnya rusak. Dan jdi printer laser biasa.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s