Tradisi Kenduri di Kampung yang Semakin Menghilang

Dikampungku masih kental tradisi kenduri. Namun ketika orang tua semakin berkurang jumlahnya maka tradisi ini dapat dipastikan akan menghilang tanpa adanya regenerasi. Apalagi seringkali berbenturan dengan tokoh agama garis keras yang melarang segala bentuk tradisi ini. Mereka berkata bahwa tradisi ini harus dihapus, karena tidak sesuai dengan ajaran rasul.

Kalau aku sendiri, tradisi ini merupakan wujud syukur dan sedekah kepada tetangga dengan memberikan makanan yang enak.

Sebelum mulai kenduri, di utuslah satu atau dua orang untuk mengundang warga sekitar dari pintu ke pintu. Undangan disampaikan dengan lisan dan sopan. Waktu kenduri hanya ada dua, yaitu sehabis magrib dan sehabis isya’. Untuk sehabis magrib digunakan untuk lingkungan sekitar yang tidak jauh, umumnya hanya kenduri biasa. Sedangkan kenduri sehabis isya, dengan cakupan undangan yang lebih luas dengan acara yang lebih banyak. Acara umumnya pembacaan surat yassiin.

Undangan ini juga dimaksudkan untuk konfirmasi jumlah yang hadir malam nantinya. Maka dari itu rumah yang diundang harus menyatakan kesanggupannya atau tidak pada waktu itu juga, untuk selanjutnya nanti dilaporkan kepada yang punya rumah.

Malamnya, ketika semua undangan sudah berkumpul. Acara segera dimulai dengan kata pengantar dari sesepuh yang isinya adalah maksud dan tujuan kenduri malam itu. Setelah selesai dilanjutkan dengan pembacaan surat yaasiin dan surat pendek lainnya sesuai dengan tema malam itu.

Setelahnya, berturut turut di keluarkan teh panas manis, snack (risoles, kacang bawang),  dan jeda beberapa menit dikeluarkan makanan inti berupa jenang baro baro, tumpeng, air putih, rangkaian bungan, gulungan nasi yang dikasih srundeng, telur rebus, pisang procot dan yang terakhir adalah makanan untuk tamu yang sudah lengkap lauk dan nasinya dalam satu piring. Untuk sayur panas akan dikeluarkan kemudian.

Dan jamuan terakhir adalah buah, kadang es dawet, es podeng dll, yang pada intinya sebagai makanan pencuci mulut.

Sehabis itu kami bisa dipersilahkan langsung pulang atau masih mengobrol dengan warga yang lain.

Untuk pulang harus ada etikanya, kita harus menyalami semua hadirin yang ada dan yang terakhir adalah yang punya rumah  dengan berkata , ” semoga terkabul keinginannya, pak/Mbah”.

Aku suka tradisi berkumpul seperti ini. Ketika generasi muda tidak lagi perduli dengan budaya yang luhur dan tinggi ini, maka dalam beberapa tahun kita hanya akan bisa mengenangnya.

3 thoughts on “Tradisi Kenduri di Kampung yang Semakin Menghilang

  1. Di tempatku (kampung) masih ada tradisi ini. Tiap jumat legi rutin kenduri ke tiap2 rumah. Satu kelompok terdiri dari 10-belasan orang. Sekedar doa pendek trus bubar.
    Kalo yg paket lama biasanya yg haul ke-sekian keluarga yg meninggal.

    Di islam emg ga ada yg kayak gini. Tp menurutku yaa ambil positifnya aja.
    Misal, biasanya orang jarang kumpul jadi kumpul semua. Menjalin ukhuwah istilahnya.
    Trus bagi2 makanan kan juga bagus. Di sisi lain juga ada doa2. Yg jarang baca qur’an, sesekali jdi ikutan baca yasin.. 😁
    Kalo orang tua ikutan kenduri gitu, aku paling menanti2 makanannya (orang jawa bilang berkat) 😂

    Like

    1. kalau kampung sebelah, masih ada yang seperti itu. Beberapa tahun belakangan ini juga sudah sepi, karena tidak ada regenerasi dari pemuda. Tiap malam jumat yasinan trus wedangan, .. positif nya sih kami bisa kumpul ” dengan warga lain dalam keadaan santai.. kalau berkat, kami tidak pernah ada.. kami hanya memberikan berkat malah sebelum acara kenduri, sebagai bentuk terima kasih sudah membantu ikutan masak

      Like

  2. Makanya orang kampung saling kenal karena ada sosialisasi semacam ini. Dulu saya juga suka nunggu nasi berkat,yang isinya nasi gurih,ayam panggang dan urap sayur.enak sih.hahaha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s