Di kampung Bukan Merupakan Suatu Kekalahan.

image

Ini cerita sebenarnya tentang kedua sahabat karib yang berbeda pandangan.

Beberapa teman teman yang dari kota bertanya kepada teman temanya yang masih setia dikampung. ” Eh kenapa elo gak ke kota aja? dengan potensi elo yang segini banyak elo pasti bisa sukses dikota, elo bisa punya gaji yang banyak, habis tu elo bisa mempunyai mobil yang bagus, rumah yang lumayan. Liat nih gue, baru 2 tahun disana dulu udah bisa punya mobil. Dan 2 tahun kemudian bisa memiliki rumah sendiri, ya meskipun itu masih mencicil sih, tapi tak apalah kan sudah punya sendiri. Gue liat elo gak ada perkembangan ekonomi sama sekali di kampung, motormu juga masih itu aja. Dan rumahmu juga itu itu melulu. Elo menyia nyiakan kemampuan elo disini hanya dengan beternak kambing dan mencari rumput. !!”

Terus yang dikampung menjawab dengan tenang tanpa emosi,” gue di kampung memang miskin bang, tidak punya apa apa. Untuk makan saja harus mikir besok itu apaan. Gue memang tidak mempunyai mobil bang,  jangankan beli mobil, untuk beli motor baru aja gue butuh waktu yang lama untuk menabungnya. Tapi disini gue damai, bang. Gue bisa bangun dan tidur sesukanya, gak ada yang perintah ini itu, gue bekerja suka suka gue, gak harus mengejar target untuk  membuat orang lain kaya dengan usaha gue. Gue gak harus mendengarkan teriakan dan makian bos bos yang kejam itu. Pokoknya damailah. Gue hanya di perintah oleh beberapa ekor kambing, he he”

“Dan lagian, orangtua gue disini menginginkan kami disini untuk menemani mereka waktu usia senja. Mereka tidak membutuhkan uang banyak, mereka hanya membutuhkan kami ada, kami tidak mengerjakan apa apapun mereka sudah bahagia. Mereka hanya membutuhkan hal-hal sepele yang tidak banyak menguras tenaga dan pikiran, misalkan diminta nganterin ke pasar, nganterin jagong, nganterin ke rumah sakit untuk beli obat, menemani sholat magrib dimasjid, menemani ketika sedang menonton tv di ruang tamu, menemani ketika sahur dan berbuka puasa. Hal hal sepele yang tidak bisa kamu berikan meskipun dengan jumlah uang yang tidak terbatas. Orang tua kita hanya membutuhkan keberadaan kita. Itu saja mereka sudah bahagia. Bukankah membuat orang tua bahagia itu tugas kita sebagai anak? Kalau bukan kita lantas siapa lagi? orangtua kita hanya satu, mereka makin hari makin menua dan waktunya semakin sempit. Gue hanya tidak ingin di bilang sebagai anak durhaka, yang menelantarkan orangtua yang sudah pikun dikampung sendirian. Meskipun banyak saudara dan tetangga yang peduli tapi akan tetap beda kalau anak dan cucu sendiri yang ngurusin. Gue hanya tidak ingin menyesal ketika tiba tiba saja mereka dipanggil oleh Yang Maha Kuasa dan gue belum mampu membuat mereka bahagia. Gue ingin ketika mereka membutuhkan, gue selalu ada.

Bukankah orangtua kita dulu merawat kita seperti itu?

Jadi gue dikampung bukan merupakan suatu kekalahan. Gue hanya tidak ingin jauh dari orangtua. Gue tidak mau ikut dalam perlombaan mengejar materi fisik yang tidak akan ada habisya.

Gue hanya mengejar ketika tidur bisa nyenyak. Bangun pagi semangat dan menjalani hari hari penuh makna dengan sisa sisa umur orangtua kami.

 

“end.

7 thoughts on “Di kampung Bukan Merupakan Suatu Kekalahan.

  1. Jawaban yg bijak. Sy pribadi sebgai anak kampung yg lahir dikota selalu merasa damai bila dikampung.. Bebas mengunjungi sanak family. Tp krna tuntutan hidup saya semntr berjuang di kota..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s